BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Home » Tafsir » Renungan “Sebaik-Baik Amal (Q.S Al-Mulk ayat 2)”

Renungan “Sebaik-Baik Amal (Q.S Al-Mulk ayat 2)”

photo-4almulk-2

Bismillah…

Alhamdulillahilladzi bi nimatihi tatimmush sholihaat… Sholawat dan salam kepada Rosulullah shalallahu ‘alaihi wasalam,
Semoga semua sahabat temanalquran telah hafal, minimal sudah berniat menghafalkan surah al-Mulk ini, surat cintaNya yang pasti membuat kita langsung menitikkan air mata di tiga ayat pertama (insyaAllah artikel menyusul, mengenai pengalaman menghafalkan surah al-Mulk ini :-)). Yoook, kita renungkan… 

Sebaik-Baik Amal (Q.S AlMulk ayat 2)

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al Mulk: 2)

Mati dan Hidup adalah Kehendak Allah
Ath Thobariy mengatakan bahwa Allah akan mematikan siapa saja dan apa saja. Begitu pula ia akan memberi kehidupan pada siapa saja dan apa saja hingga waktu yang ditentukan.
Dunia Hanyalah Kehidupan Sementara Waktu.
Dari ‘Atho’, dari Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Kematian akan ditemui di dunia. Sedangkan kehidupan hakiki adalah di akhirat.” Qotadah mengatakan, “Allah memang menentukan adanya kematian dan kehidupan di dunia. Namun Allah menjadikan dunia ini sebagai negeri kehidupan yang pasti akan binasa. Sedangkan Allah menjadikan negeri akhirat sebagai negeri balasan dan akan kekal abadi.”

Kenapa Allah Menyebutkan Kematian Lebih Dahulu Baru Kehidupan?
Ada beberapa alasan yang disebutkan oleh para ulama:
Alasan pertama: Karena kematian itu akan kita temui di dunia. Sedangkan kehidupan yang hakiki adalah di akhirat. –Lihat perkataan Ibnu ‘Abbas di atas-

Alasan kedua: Segala sesuatu diawali dengan tidak adanya kehidupan terlebih dahulu seperti nutfah, tanah dan semacamnya. Baru setelah itu diberi kehidupan. (hal ini ‘menonjok’ alam pikiran saya, ternyata kita ini dulunya kan tidak ada, lho!) Sungguh ketika bertemu ayat ini, saya baru memahami perkataan gurunda (sewaktu dalam team pengurusan jenazah muslimah), beliau berucap,”Kenapa takut mati?! Sungguh Kita dahulu ‘mati’, lalu Allah ta’ala menghidupkan kita! naaah, setiap malam kita ‘mati’ juga, setiap pagi atas izinNya, kita dihidupkan lagi… masyaAllah, alangkah hebatnya Allah azza wa jalla…”

Alasan ketiga: Penyebutan kematian lebih dulu supaya mendorong orang untuk segera beramal.

Alasan keempat: Kematian itu masih berupa nuthfah (air mani), mudh-goh (sekerat daging) dan ‘alaqoh (segumpal darah), sedangkan kehidupan jika sudah tercipta wujud manusia dan ditiupkan ruh di dalamnya.

“Supaya Allah menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya”
Beberapa tafsiran mengenai “siapakah yang lebih baik amalnya” :
Pertama: siapakah yang paling baik amalannya di antara kita dan nanti masing-masing di antara kita akan dibalas.

Kedua: siapakah yang paling banyak mengingat kematian dan paling takut dengannya.

Ketiga: siapakah yang paling gesit dalam melakukan ketaatan dan paling waro’ (berhati-hati) dari perkara yang haram.

Keempat: siapakah yang paling ikhlas dan paling benar amalannya. Amalan tidak akan diterima sampai seseorang itu ikhlas dan benar dalam beramal.

Yang dimaksud ikhlas adalah amalan tersebut dikerjakan hanya karena Allah SWT. Yang dimaksud benar dalam beramal adalah selalu mengikuti petunjuk Nabi SAW. Inilah pendapat Fudhail bin ‘Iyadh.

Kelima: siapakah yang lebih zuhud dan lebih menjauhi kesenangan dunia. Inilah pendapat Al Hasan AlBashri.

#Reminder bukan ‘sebanyak-banyaknya amal’ dengan riuhnya tepuk tangan dari makhluk dunia ini yang membuat Allah ta’ala menyayangi kita, melainkan ‘sebaik-baik amal’— yang seringkali tidak kita sadari adanya aktivitas ibadah ‘yang sepele dipandang manusia’, namun bernilai amat tinggi di sisi Allah SWT, subhanalloh …

Syarat Diterimanya Ibadah Bukan Hanya Niat yang Ikhlas
Al Fudhail bin ‘Iyadh tatkala berkata mengenai firman Allah,
لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
“Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al Mulk: 2), beliau mengatakan, “yaitu amalan yang paling ikhlas dan paling showab (sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).”
Al Fudhail bin ‘Iyadh lalu berkata,  “Apabila amal dilakukan dengan ikhlas namun tidak mencocoki ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, amalan tersebut tidak akan diterima. Begitu pula, apabila suatu amalan dilakukan mengikuti ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam namun tidak ikhlas, amalan tersebut juga tidak akan diterima.”
Oleh karena itu, syarat diterimanya ibadah itu ada dua:
Niat yang ikhlas
Mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Jika salah satu syarat di atas tidak terpenuhi, maka amalan tersebut ‘bagaikan skripsi yang belum rampung—dicoret-coret oleh dosen pembimbing >_<. Ini ada kaitannya tentang betapa pentingnya kita menuntut ilmu, ilmu dan amal mesti berdampingan. Yakinlah, dalam suatu momen perjalanan hidup, kita akan mengenang memory tentang diri kita beberapa tahun silam, bisa jadi kita tertawa atau nyengir malu sendiri jika mengingat ‘ketidak-tahuan’ di masa lalu, dan menjadi kian bersyukur karena Allah SWT limpahkan rezeki menuntut ilmu pada hari ini.

Allah Tidak Menuntut Banyak Kuantitas Amalan, Namun Kualitas, kita mesti terus memperbaiki kualitas amal sholih. *misal, hari ini cuma hafal juz 30, tahun depan bisa jadi sudah menambah hafalan 1 juz lainnya, dengan menambah pemahaman tentang makna dalam juz 30, artinya kita makin memahami isi surah-surah di juz 30, walhamdulillah kalau sudah plus mengamalkannya…

Contoh lain, yang saya amati, seorang ustadzah… tahun lalu ia cerita ‘uneg-uneg’ tentang berbagai problema, komplikasi penyakit, dsb… Namun ditutup oleh beliau dengan mutiara hikmah dalam ayat-ayat Al-Quran yang telah beliau hafalkan juga. Dan beberapa bulan setelah itu, justru ada ujian lain (yang bagi orang sekitarnya tampak amat berat), namun baginya hal itu sepele dan tidak memerlukan ‘tempat curhat’ selain sujud-sujud malam kepada-Nya.

Lagi-lagi,
Dalam ayat “supaya Allah menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya”, di situ tidak dikatakan siapakah yang paling banyak amalannya. Namun dikatakan siapakah yang paling baik amalannya. Sehingga dituntut dalam beramal adalah kualitas (ikhlas dan sesuai tuntunan Nabi), bukan kuantitasnya.
Tidak Ada yang Dapat Menghalangi Kehendak Allah, Namun Dia Maha Pengampun.
Dalam penutupan ayat kedua dari surat Al Mulk, Allah menyebut,
وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
“Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”
Di dalamnya terkandung makna tarhib (ancaman) dan targhib (motivasi). Maksudnya, Allah melakukan segala sesuatu yang Dia inginkan dan tidak ada satu pun yang bisa menghalangi-Nya. Allah akan memberi adzab hamba-Nya jika mereka durhaka (enggan taat) pada-Nya dan tidak ada satu pun yang bisa menghalangi-Nya. Namun Allah Maha Menerima Taubat jika hamba yang terjerumus dalam maksiat dan dosa bertaubat dengan kesungguhan pada-Nya. Allah SWT akan mengampuni setiap dosa walaupun itu setinggi langit dan Dia pun akan menutup setiap ‘aib (kejelekan) walaupun ‘aib itu sepenuh dunia.

Betapa indahnya, jika terus mendalami makna Kitabullah.
“Permisalan orang yang membaca Al Qur’an dan mengamalkannya adalah bagaikan buah utrujah, rasa dan baunya enak. Orang mukmin yang tidak membaca Al Qur’an dan mengamalkannya adalah bagaikan buah kurma, rasanya enak namun tidak beraroma. Orang munafik yang membaca Al Qur’an adalah bagaikan royhanah, baunya menyenangkan namun rasanya pahit. Dan orang munafik yang tidak membaca Al Qur’an bagaikan hanzholah, rasa dan baunya pahit dan tidak enak.”
Segala puji bagi Allah yang nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna, Waullohu a’lam bisshowab.

Check Also

Filosofi Sendok

Filosofi Sendok  *(menolak logika cacat pendukung penista agama)   Sendok..   Siapa yang tidak tahu ...

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: