BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Home » Tafsir » Pantaskah aku menafsirkan Al-Quran?

Pantaskah aku menafsirkan Al-Quran?

Pantaskah aku menafsirkan Al-Quran?

 

twoPerbedaan pendapat atau khilafiyah dalam Islam sudah terjadi sejak ribuan tahun lalu. Kebanyakan adalah meliputi hal-hal yang sifatnya fiqih, namun juga tidak jarang dalam bidang tafsir. Dari sekian perbedaan pendapat itu selalu ada pendapat-pendapat yang “nyeleneh”, yang berbeda dengan kebanyakan orang. Pandangan yang nyeleneh ini disebut juga pendapat “gharib” atau lemah, dan kebanyakannya ia ditolak oleh kebanyakan ulama disebabkan berbeda dengan pendapat ulama dan lemahnya dalil.

Kanjeng nabi pernah berpesan, bahwa umat beliau tidak akan bersapakat dalam kesesatan. Artinya, pendapat yang diikuti oleh kebanyakan ulama adalah lebih dekat kepada kebenaran jika disertai dengan hujjah yang kuat.

Bagi yang mempelajari ilmu Al-Quran dan Rasm, perkara yang saya sebut diatas sangatlah jelas dipahami, sebab dari situlah lahirnya qiraat al-muttawatir yang sepuluh. Dalam catatan kecil ini kami bukan hendak berbicara mengenai ilmu qiraat atau ilmu rasm, tapi akan menyoroti fenoma tafsir yang cukup ramai didiskusikan belakangan ini.

Bagi yang mengikuti perkembangan media sosial baru-baru ini tentu tidak asing dengan diskusi pro kontra mengenai tafsir ayat al-quran yang bukan cuma terjadi antar umat islam tapi juga umat non-Islam.

What? Non-muslim juga? Well, jangan heran, fenomena ini sudah terjadi beberapa tahun di negara tercinta ini, sejak pro-kontra ucapan selamat natal, lalu pemblokiran situs-situs islam, sampai akhirnya statement jelas agar umat tidak memilih pemimpin berdasarkan Al-Quran.

Akhir-akhir ini kita perhatikan, muncul banyak “Ahli Tafsir” dadakan, baik dari non-muslim ataupun muslim, tapi pertanyaan mendasar; apakah orang -orang tersebut pantas menafsirkan al-quran? Sebagian mungkin akan menjawab; kami hanya mengutip; baik kalau begitu saya turunkan standar pertanyaannya, sudah pantaskah mereka “mengutip” tafsir Al-Quran?

Kenapa seorang harus memiliki kepantasan? Sebab Al-Quran bukanlah bacaan biasa, tidak seperti surat kabar atau buku cerita, tapi ia memiliki aturan sebab ia adalah firman Alloh. Aturan diantaranya adalah saat mulai menyentuhnya (harus suci), dalam membacanya dan sampai cara menafsirkannya.

 

Tafsir Bukan Ilmu Copy Paste atau Cocok Lagi

 

Statement diatas sangatlah jelas, karena semua di dalam Islam tidak bisa dipelajari secara instant. Ilmu di dalam Islam didapat dengan cara berguru secara talaqqi dan musyafahah kepada guru-guru agama yang memiliki sanad.

Semua kitab-kitab fiqih, hadist, sampai Al-Quran, diajarkan lewat transmisi Sanad dari guru ke murid. Tujuannya adalah agar kitab-kitab tersebut tidak dipahami secara menyimpang baik dari sisi makna ataupun bacaan oleh para penuntut ilmu. Dengan kata lain, supaya nantinya ilmu-ilmu itu tidak ditafsirkan selain daripada apa yang dimaksudkan oleh pengarang kitab itu.

Perbedaan besar Al-Quran dengan kitab-kitab lain adalah pada pengarangnya. Kitab-kitab selain daripada Al-Quran adalah hasil tulisan dan pehamanan manusia, namun Al-Quran adalah kitab yang diturunkan oleh Alloh kepada nabi. Tidak ada yang mendengar langsung bagaimana jibril membacakan kecuali Kanjeng Nabi Muhammad Salallahu alaihi wassalam sendiri saja. Lalu lewat lisan mulia Kanjeng Nabi kitalah Al-Quran diajarkan kepada para sahabatnya yang berasal dari kabilah-kabilah arab yang berbeda, dengan lahjah bahasa yang berbeda.

Begitupun selanjutnya para sahabat yang mulia mengajarkan kepada para murid-murid mereka secara talaqqi dan musyafahah sampai akhirnya ilmu itu sampai kepada kita.

Kekhususan inilah yang menyebabkan al-quran begitu istimewa dan memiliki kedudukan yang tinggi berbanding kitab-kitab buatan manusia lainnya.

 

قُل لَّئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰ أَن يَأْتُوا بِمِثْلِ هَٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا

 

Terjemahan: Jikalau manusia dan jin berkumpul atas menghadirkan yang semisal Al-Quran, maka mereka tidak akan mampu menghadirkannya walaupun mereka saling bantu membantu.

 

Bahasa Al-quran begitu tinggi, dan tidak bisa ditafsirkan kecuali oleh mereka yang memiliki kemampuan. Bahkan, orang arab sekalipun, tidak akan langsung bisa menafsirkan Al-Quran jikalalu mereka tidak memiliki keahliannya.

Beberapa tahun yang silam, waktu saya masih bertugas di Jerman dan Polandia, saya bertanya kepada 2 kawan saya dari etnis Arab yang tinggal disana, yang satu dari Tunisia dan satu dari Mesir.

Pertanyaan saya adalah: Apakah mereka mampu langsung memahami makna al-quran jika saya membacakan suatu ayat kepada mereka? Jawaban mereka sungguh mengejutkan, Tidak. Mereka mungkin bisa menerjemahkan kata perkata, tapi untuk memahami ayat, is not that simple.

Luar biasa, padahal mereka adalah orang asli arab, yang sejak kecil sudah fasih berbahasa arab. Betul kata mereka, Is not That Simple,  sebab mereka menempatkan al-quran ditempat yang mulia, sehingga tidak lancang menafsirkan tanpa ilmu yang cukup. Salah menafsirkan bisa menghasilkan kesesatan, bukan hanya bagi diri sendiri tapi juga kepada orang banyak.

Ibarat seorang dokter umum, ketika ada pasien patah tulang yang datang kepada, lantas tidak dengan serta merta ia nekat mengobati akan tetapi langkah yang bijak adalah merefernya ke dokter spesialis tulang. Ini bertujuan supaya dapat dipastikan pasien itu mendapatkan perawatan yang benar dan tidak terjadi kesalahan praktek yang dapat menimbulkan kerugian jiwa.

Jika terhadap manusia saja perlakuannya harus sangat careful seperti diatas maka tentunya kita harus extra careful terhadap Al-Quran.

Salah diagnosa pada penyakit di bidang kedokteran mungkin hanya akan menyebabkan kecelakaan di dunia saja tapi salah diagnosa di bidang agama akan menyebabkan kecelakaan dunia dan akhirat.

Kitab-kitab buatan manusia lebih mudah ditafsirkan, terutamanya karena ada kesempatan untuk merujuk kepada penulis asli, tapi tidak dengan al-Quran karena ia adalah Kalamullah, dan hanya dapat dipahami dengan mempelajari bagaimana Kanjeng Nabi dan para sahabatnya yang mulia belajar dan memahami Al-Quran. Dari sini lahirlah standard kualifikasi para ahli tafsir yang sudah disepakati oleh kebanyakan ulama dengan tujuan agar makna ayat-ayat Al-Quran tidak sembarangan ditafsirkan sehingga akan menyebabkan kesesatan pada umat.

Ini adalah point penting yang mana ia berperan besar dalam menjaga agar pemahaman Al-Quran tidak lari dari aslinya.

 

Jadi Siapa yang boleh menafsirkan al-Quran?

Para ulama mensyaratkan banyak syarat, tapi untuk saat ini 3 syarat teratas saja yang akan saya sebutkan disini:

  • Hafal Al-quran dan menguasai ilmu Al-quran (Ilmu qiraat, Ilmu fawasil, Ilmu Waqaf dsb)
  • Hafal beberapa ribu hadist
  • Paham bahasa arab

 

Nah yang diatas adalah baru persyaratan dasar, yang dipersyaratkan oleh para ulama  yang kesemuanya harus di miliki oleh orang yang mau menafsirkan Quran. Lantas apakah kita memenuhi syarat yang 3 diatas?

 

Mari kita lihat persyaratannya satu demi satu.

Yang pertama

Bagaimana mungkin seseorang mampu menafsirkan Al-quran jika ia sendiri tidak hafal al-quran? Logika sederhana, mungkinkah seseorang yang tidak selesai membaca suatu buku akan mampu menceritakan isi buku tersebut? Al-Quran bukanlah buku cerita, sebab ia mengandung pesan Tuhan semesta alam yang tersebar dalam 6236 ayat, dan setiap ayat ada rahasia dan kaitannya satu sama lain. Keterkaitan anatara ayat ditambah ilmu nasakh wa mansukh dan ilmu asbabun nuzul akan sangat berpengaruh kepada akurasi penafsiran suatu ayat.

Sangat sukar membayangkan jika ada ahli tafsir yang tidak hafal kitab yang dia sedang tafsirkan. Bagaimana mungkin ia bisa membanding antara ayat satu dengan lainnya?

Bagaimana dengan ulama dahulu? Ulama dahulu jangan dibandingkan, Ibnul Qayyim Al Jauzi menulis kitab Zaadul Maa’d selama perjalanan hajinya, dengan hanya berbekal pena dan tinta, jadilah kita yang tebalnya 5 jilid.

Yang kedua

Menghafal hadist nabi diperlukan karena hadist menjadi “Bayan” atau penjelas terhadap Al-Quran. Kenapa dengan hadist? Karena dalam hadist Nabi lah terekam bagaimana Kanjeng Nabi kita mengaplikasikan Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari beliau. Ketika Al-Quran memerintahkan untuk sholat, maka dalam hadist lah kita akan jumpa bilangan sholat, waktu pelaksanaan, sampai instruksi teknis pelaksanaan dengan detail.

Bagaimana mungkin seseorang mampu menafsirkan Al-Quran jika ia sendiri tidak hafal banyak hadist nabi? Suatu hal yang sukar dibayangkan secara logika.

Yang ketiga

Lalu bagaimana dengan bahasa arab? Ini adalah suatu keniscayaan, bagaimana mau menafsirkan al-Quran kalau baca kitab arab pun tidak mampu dan kaedah bahasa arab tidak menguasai? Al-quran diturunkan dalam bahasa arab, bukan bahasa Indonesia, sehingga menguasai bahasa arab adalah hal yang tidak bisa ditawar lagi.

Adakah kita memilki semua kualifikasi diatas?

Kita hanya mengutip kata Profesor fulan ibn fulan, bukan menafsirkan sendiri

 

Sebetulnya menurut kami sama saja, mengutip tafsir tanpa memahami keseluruhan Al-Quran adalah mustahil. Walaupun tafsir yang dikutip itu datang dari orang yang bergelar Profesor, Doktor, atau apapun juga tetap harus ikut kaedah tafsir secara umum, dan kita pun harus mampu mengutip dengan betul.

Contoh, jika seorang mengutip tafsir Al-Maidah ayat 51, maka tidak mungkin dapat memahaminya tanpa melihat Al-Imran 28, An-Nisa 139 dan 144. Dalam ilmu tafsir kaedah ini disebut tafsir bil ma’tsur, artinya menafsirkan ayat berdasarkan ayat lain atau hadist Nabi atau perkataan sahabat.

Itulah sebabnya mengutip pun ada metode dan cara ilmiahnya, tidak asal copy paste, comot sana -sini saja.

Benar salahnya tafsir bukan dilihat dari gelar akademis si pembuat buku tafsir, tapi dari isi tafsirnya dan juga pendekatan tafsirnya. Contoh: Jika seseorang tidak hafal Al-Quran (baik pentafsir dan pengutip) lalu mentafsirkan Al-Maidah ayat 51, tanpa melihat ayat lain yang disebutkan diatas, maka hasilnya akan berbeda. Contoh lain, jika seseorang yang tidak memilki ilmu asbabun nuzul, kemudian ia menafsirkan surat Al-Baqarah ayat 284 tanpa melihat ayat 285, maka yang terjadi adalah ia akan berkesimpulan yang bertolak belakang 360 derajat mengenai dihitung tidaknya niat dalam hati sebagai amalan atau dosa.

Coba bayangkan jika hal seperti ini dikutip mentah-mentah lalu disebarkan kepada khalayak ramai? Subhanalloh, yang halal bisa jadi haram yang haram bisa jadi halal. Jika ada seorang mufasir dengan gelar Doctor atau Profesor lalu ia mengatakan bahwa hijab itu budaya arab dan tidak wajib berhijab, patutkah perkataannya diikuti? Demi Alloh, hal ini sudah jelas sejak jaman Nabi, sejelas matahari di siang hari dan bulan di malam hari, patutlah perkataan orang itu kita tolak mentah-mentah, walaupun ia adalah seorang profesor sekalipun, sebab ia tidak sesuai dengan pemahaman kebanyakan para ulama.

Ada cerita menarik mengenai gelar doctor/profesor, suatu waktu saya diundang oleh perkumpulan dosen-dosen di negeri jiran, untuk acara bukber. Saat itu yang berceramah adalah Prof Sohirin, seorang pengajar di fakultas Quranic and revelation di IIUM. Beliau mengatakan dihadapan para kolega beliau sesama pengajar di IIUM, bahwa gelar Doctor itu adalah gelar yang sebenarnya “tidak susah-susah” sekali diraih. Seorang bisa mendapatkan gelar Doctor dengan meneliti sebuah apel, jadi kita jangan terlalu berbangga dengan gelar kita. Beliau lanjutkan, jika kita bandingkan dengan ulama-ulama terdahulu, maka kita tidak ada apa-apanya. Coba bayang berapa tebal kitab “Canon of Medicine” karangan Ibnu Sina? Maka kita sangatlah jauh berbanding ulama-ulama terdahulu dari sisi keilmuan

Saya paham betul tujuan ungkapan beliau ini adalah agar kita semua menghargai hasil karya ulama-ulama terdahulu, sebab karya-karya mereka ini tidak ada bandingannya.

Tentu tidak ada maksud untuk meremehkan gelaran-gelaran akademis, tapi kita harus ingat bahwa semua itu ada tempatnya masing-masing. Walau bagaimana pun generasi awal umat ini adalah lebih mulia dari generasi akhir, mereka dipisahkan dengan sumber ilmu yaitu kanjeng Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wassalam, hanya beberapa tahun, sedangkan kita sampai ribuan tahun.

Dalam Islam sudah ada hal-hal yang pasti, jelas, dan pendapat-pendapat masyhur, yang mana ia tidak boleh diselisihi oleh ulama kontemporer, baik dalam perkara fiqih atau akidah. Contoh: Solat 5 waktu wajib/ sehari-semalam, kewajiban menutup aurat dsb.

Jadi jika ada produk tafsir, katakanlah karya profesor fulan, yang sangat bertentangan, baik itu dalam perkara aqidah atau fiqih, dengan tafsir ulama jaman dahulu semisal Ibn Katsir, At-Thabari, Al-Qurtubi, Al-Jalalain, Ali bin Abi Talhah dan ulama-ulama tafsir lainnya, maka pendapat profesor fulan tersebut lebih layak di tolak.

Kenapa? Karena pendapat mashyur akan memiliki hujjah yang kuat dan juga pendapat ini sudah ada selama ratusan tahun. Sekiranya ia adalah pendapat menyimpang tentunya ia tidak akan kekal, sebab umat Islam tidak akan bermufakat untuk perkara maksiat.

Jadi, referlah selalu ke banyak ulama-ulama awal!  jangan hanya kepada 1 ulama dan jangan taqlid ! sebab taqlid itu akan membutakan kita dari kebenaran.

Sumber kesesatan, adalah ketika manusia lebih melihat kepada gelaran si penulis daripada isi tulisan, seolah-olah gelaran itu adalah cap Al-Maksum yang menjamin benarnya semua perkataan si penulis. Subhanalloh, semoga kita dihindarkan dari sifat bodoh seperti itu.

 

Masih pantaskah aku menerjemahkan Al-Quran?

 

Ada kisah menarik waktu saya di pondok tahfiz tahun lalu, ada kawan kami yang juga seorang ustadz dan dosen tafsir, kebetulan beliau juga-juga sama-sama jadi peserta dalam acara di pondok itu. Sebagai informasi, kami berada di pondok ini selama sebulan untuk menggenapkan hafalan 30 juz Alquran.

Pada masa menghafal, ketika masuk ke ayat-ayat tertentu, saya terpaksa harus baca tafsir sebab walaupun saya mampu menerjemahkan Al-Quran kata perkata tetap saya tidak mampu memahami artinya secara sempurna dan hal ini sangat menyulitkan bagi saya dalam menghafal.

Pada saat kami sedang menghafal Surah An-Nisa, saya heran kenapa beliau (Pak Dosen)jadi ikut-ikutan seperti saya buka tafsir, lalu saya bertanya

 

Saya: Ustadz, ente kok buka tafsir? Bukannya guru tafsir?

Ustadz: Ane gak bisa langsung paham kalau gak buka tafsir, ayatnya susah

 

Jikalau seorang dosen tafsir, hafal quran, pandai bahasa arab saja begitu hati-hati dalam menafsirkan makna Al-Quran, maka masih pantaskah kita yang tidak hafal Quran, tidak hafal hadist, dan buta bahasa arab, berani dengan lancang mencomot sana-sini demi kepentingan dunia?

Masing-masing diri kita bisa menilai sendiri.

Berhati-hatilah dalam masalah agama, sebab dunia ini terlalu murah jika ditukar dengan akhirat. Jangan kau korbankan akhiratmu yang kekal abadi demi keuntungan sesaat yang dianya akan sirna saat dirimu memasuki liang lahat.

Cukuplah engkau mengatakan Laa A’lamu atau Laa A’rifu jika engkau tidak mengetahui

وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ إِلَّا رِجَالًا نُّوحِي إِلَيْهِمْ ۖ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

 

Wallahu’alam

– Anggana Mahendra, ST, Al-Hafiz –

 

 

Check Also

Renungan “Sebaik-Baik Amal (Q.S Al-Mulk ayat 2)”

Bismillah… Alhamdulillahilladzi bi ni‘matihi tatimmush sholihaat… Sholawat dan salam kepada Rosulullah shalallahu ‘alaihi wasalam, Semoga semua ...

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: