Home » Kondisi Umat » Israel Dituduh Lakukan Lebih Banyak Pelanggaran Gencatan Senjata di Lebanon
NABATIEH, LEBANON - FEBRUARY 04: The Lebanese army and the United Nations Interim Peacekeeping Force in Lebanon (UNIFIL) are being deployed in the Taybeh and Al-Aadaissah villages as Lebanese people continue to return to their homes and face damaged roads and destroyed buildings after the withdrawal of Israeli army from some areas in Nabatieh Governorate, southern Lebanon on February 04, 2025. ( Ramiz Dallah - Anadolu Agency )

Israel Dituduh Lakukan Lebih Banyak Pelanggaran Gencatan Senjata di Lebanon

Israel kembali melancarkan operasi militernya di Lebanon selatan pada Rabu (6/2), yang disebut sebagai “pelanggaran baru” terhadap perjanjian gencatan senjata, menurut laporan Anadolu Agency.

Berdasarkan data yang dikumpulkan dari Kantor Berita Nasional Lebanon, jumlah total pelanggaran gencatan senjata oleh Israel sejak mulai berlaku pada 27 November tahun lalu telah mencapai 855 kasus.

Dalam operasi terbaru, pasukan Israel membakar beberapa rumah di kota Rab Thalatheen, Distrik Marjayoun, Provinsi Nabatieh. Di kota Yaroun, Distrik Bint Jbeil, tentara Israel melakukan pembongkaran sistematis terhadap sejumlah rumah. Sementara itu, di Kfar Kila, Distrik Marjayoun, mereka melancarkan apa yang disebut sebagai “operasi pembongkaran besar-besaran,” meskipun detail lebih lanjut tidak diungkapkan.

Sebelumnya pada Rabu, tentara Lebanon menyelesaikan pengerahan pasukan di kota perbatasan Aita Al-Shaab, Distrik Sour. Mereka juga membersihkan puing-puing dan membuka kembali akses jalan di wilayah tersebut.

Perjanjian gencatan senjata yang ditandatangani pada November lalu mengakhiri baku tembak antara tentara Israel dan Hizbullah, yang dimulai pada 8 Oktober 2023 dan meningkat menjadi perang skala penuh pada 23 September tahun lalu.

Berdasarkan perjanjian itu, Israel diberi waktu 60 hari untuk menarik pasukannya dari kota-kota yang mereka duduki di Lebanon selatan selama konflik. Namun, Tel Aviv gagal menyelesaikan penarikan sebelum tenggat waktu yang berakhir pada 26 Januari. Gedung Putih kemudian mengumumkan perpanjangan batas waktu hingga 18 Februari.

Hingga kini, pelanggaran gencatan senjata oleh Israel telah menyebabkan 67 warga Lebanon tewas dan 263 lainnya luka-luka. Secara keseluruhan, serangan Israel terhadap Lebanon telah menewaskan 4.098 orang dan melukai 16.888 lainnya, termasuk banyak wanita dan anak-anak.

Kekerasan tersebut juga memicu krisis pengungsian besar, dengan sekitar 1,4 juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka, terutama setelah eskalasi konflik pada 23 September.[fq/memo]

Check Also

Prancis, Inggris, dan Jerman Serukan Diakhirinya Perang di Gaza

Para pemimpin kelompok E3 yang terdiri dari Prancis, Inggris, dan Jerman pada hari Jumat menyerukan ...

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: