BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Home » info » Siapakah yang Dimaksud Ahlul Quran Menurut Ibnul Qayyim?

Siapakah yang Dimaksud Ahlul Quran Menurut Ibnul Qayyim?

Di antara kekeliruan kebanyakan aktivis Alquran adalah bahwa: mereka membatasi diri mempelajari Alquran hanya dari sisi memperbaiki pelafalan huruf-hurufnya serta menghafalkan lafazh-lafazhnya semata.

Benar, memperbaiki ketepatan makhārijul hurūf hijaiyyah dan kesempurnaan sifat-sifatnya, serta menghafalkan lafazh-lafazhnya merupakan kebaikan dan di dalamnya terdapat keagungan yang besar.

Namun, Ahlul Quran bukanlah orang yang sekadar fasih membaca Alquran ataupun kuat hafalan ayat demi ayatnya.

Al-Imām Ibnul Qayyim mengatakan:

“Ahlul Quran adalah mereka yang memahami isi kandungan Alquran dan mengamalkannya. Walaupun mereka tidak menghafal keseluruhan Alquran di dalam hatinya. Adapun mereka yang menghafal keseluruhan Alquran di dalam hatinya, namun tidak memahami isi kandungannya dan juga tidak mengamalkannya, maka mereka bukanlah termasuk Ahlul Quran, walaupun sanggup menegakkan huruf-hurufnya dengan tepat lagi fasih.”

Dalam kesempatan yang lain, beliau mengatakan:

“Seseorang yang berakhlak dengan Alquran dan beradab dengan adab Alquran, maka ia termasuk Ahlul Quran, walaupun ia seorang yang buta huruf dan tidak bisa membaca Alquran.”

Tentu saja perkataan ini bukanlah untuk mengajak kita mengerdilkan pembelajaran tajwid dan tahfizh Alquran. Apalagi untuk membuat kita malas dan menjauhi dari mempelajari tajwid dan menghafalkan Alquran. Bukan itu..!!

Melainkan untuk bersama-sama melihat ke dalam diri kita masing-masing, sudah sejauh mana interaksi kita dengan Alquran itu berpengaruh dalam kehidupan kita sehari-hari?

Sudah sejauh mana kita berusaha memahami isi kandungan Alquran, baik dari sisi tafsirnya, ataupun rinciannya dalam bidang Akidah, Fikih, dan Tazkiyatun Nafs?

Kemudian, jangan sampai kita terlalu menyibukkan diri dengan amalan-amalan yang bukan fardhu ‘ain, namun meninggalkan yang fardhu ‘ain. Karenanya, kita mesti paham apa hukum ilmu tajwid, menghafalkan Alquran, dan memahami isinya. Agar kita bisa menempatkan skala prioritas dengan tepat, dan meluangkan waktu lebih banyak dalam urusan-urusan yang paling fardhu di antara yang fardhu. Urusan yang fardhu ain di atas yang fardhu kifayah dan yang sunnah.

Sehingga akhirnya kita tetap berada di atas track yang tepat menuju titel Ahlul Quran yang sempurna, menjadi orang-orang khusus pilihan-Nya, keluarga-Nya di dunia dan di akhirat. Semoga Allāh menjadikan kita dan keluarga kita termasuk Ahlul Quran. Āmīn.

sumber: FB ustaz Muhammad Laili Al-Fadhli

Check Also

ruma

Kisah Jin Masuk Islam Setelah Dengar Al-Quran dan Berdakwah ke Kaumnya

Ada kisah yang bisa diambil pelajaran yaitu tentang para jin yang mendengar Al-Quran lantas mendapatkan ...

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: