Oleh: Sriy Sarah – IMSD Denmark
Kopenhagen, 6 Juni 2025 – Suasana pagi yang sejuk di kota Hellerup, Denmark, terasa hangat oleh semangat kebersamaan diaspora Indonesia yang hadir dalam pelaksanaan Sholat Idul Adha 1446 H dan acara Halal Bihalal di lingkungan KBRI Kopenhagen, yang berlokasi di Ørehøj Alle 1, 2900 Hellerup.
Acara ini dibuka secara resmi oleh Interim Duta Besar RI untuk Kerajaan Denmark, Bapak Rully Fachrudin Sukarno, yang dalam sambutannya menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai keimanan, solidaritas, dan semangat gotong royong, meskipun berada jauh dari tanah air.
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara KBRI Kopenhagen dan Indonesian Muslim Society in Denmark (IMSD), dengan koordinasi wilayah Zealand yang dipimpin oleh Bapak Muhammad Haviv.
Khutbah Idul Adha: Ketaatan di Tengah Ujian Zaman
Bertindak sebagai imam sekaligus khatib adalah Ustadz H. Anggana Mahendra, ST., Al-Hafizh, yang juga menjabat sebagai Ketua IMSD tahun ini. Dalam khutbahnya, beliau mengangkat tema:
“Ketaatan dan Keikhlasan di Tengah Ujian Zaman.”
Beliau mengajak para jamaah untuk merenungkan kembali makna kurban sebagai wujud nyata dari iman yang hidup — tak sekadar ritual, tetapi juga pengorbanan dan kepasrahan total kepada kehendak Allah SWT.
“Kita belajar dari pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Setelah bertahun-tahun menanti, Nabi Ibrahim dianugerahi putra, namun Allah justru memerintahkannya untuk menyembelih anak tercintanya. Ini bukan ujian biasa. Namun dari kisah itu, Allah mengajarkan bahwa setiap kita akan diuji, dan ujiannya berbeda-beda sesuai dengan zaman,” ujar Ustadz Anggana.
Beliau menambahkan bahwa:
“Nabi Ibrahim AS mengajarkan kepada kita arti kepercayaan dan ketaatan tanpa syarat kepada Allah. Sementara Nabi Ismail AS menunjukkan keikhlasan dan kesiapan untuk berkorban demi ketaatan yang sama. Inilah inti spiritual dari Idul Adha — bahwa iman sejati selalu memerlukan pengorbanan.”
Potluck, Silaturahmi, dan Semangat Diaspora
Usai sholat dan khutbah, acara dilanjutkan dengan sesi Halal Bihalal dan ramah tamah antarwarga. Suasana penuh kehangatan terasa dalam sajian potluck berupa hidangan khas Nusantara yang dibawa oleh masing-masing keluarga.
Aroma rempah dan masakan Indonesia memenuhi udara — dari lemper, risoles, mie goreng, rendang, hingga sambal goreng kentang — semuanya tersaji dengan cinta. Anak-anak terlihat bermain riang, sementara orang tua saling bertukar kabar dan cerita.
Kebersamaan ini menjadi bukti bahwa meskipun jauh dari tanah air, semangat kekeluargaan dan gotong royong tetap hidup dalam komunitas diaspora Indonesia.
“Ini bukan hanya tentang perayaan keagamaan, tapi juga momen untuk mempererat tali silaturahmi sesama anak bangsa. Kami juga masih menantikan kehadiran Ibu Dubes yang baru, tapi hari ini kami semua senang bisa menikmati kuliner dan camilan Indonesia di sini,” ujar salah satu peserta dengan antusias.
Bagi anak-anak Indonesia yang lahir dan tumbuh di luar negeri, momen seperti ini menjadi ruang penting untuk mengenal dan mencintai tradisi keislaman serta kebangsaan. Melalui Idul Adha, nilai-nilai pengorbanan, kebersamaan, dan kepedulian sosial dapat diwariskan secara nyata.
Hikmah Idul Adha: Antara Iman, Keikhlasan, dan Pengorbanan
Idul Adha bukan sekadar seremoni penyembelihan hewan kurban. Ia adalah refleksi spiritual tentang kepatuhan, keikhlasan, dan totalitas penyerahan diri kepada Allah SWT. Di balik kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, tersimpan pelajaran abadi bahwa iman tidak hadir tanpa pengorbanan — entah waktu, harta, kenyamanan pribadi, atau kepentingan duniawi.
“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada daging dan darah kurban kalian, tetapi Dia melihat pada ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)
Di zaman modern ini, bentuk pengorbanan bisa diwujudkan lewat hal-hal sederhana: menahan amarah, memaafkan, berbagi rezeki, atau sekadar hadir dan peduli terhadap sesama.
Sebagaimana disampaikan dalam khutbah, “iman memerlukan sacrifice” — maka setiap Muslim diajak untuk terus menjaga kualitas hubungannya dengan Allah SWT melalui tindakan nyata yang mencerminkan ketaatan dan keikhlasan. Di tengah tantangan zaman, krisis global, dan dinamika kehidupan diaspora, semangat kurban menjadi pelita yang menuntun hati untuk tetap kuat, tulus, dan penuh kasih.
TemanAlQuran.com Hidup Mulia Bersama Quran