GAZA – Berbicara sebagai satu kesatuan, kelompok-kelompok Palestina pada Kamis kemarin mengecam perjanjian baru antara Uni Emirat Arab (UEA) dan Israel untuk menormalisasi hubungan, lapor Anadolu Agency.
Hamas mengutuk perjanjian itu, mengatakan perjanjian tersebut tidak melakukan apa pun untuk membantu perjuangan Palestina dan justru mengabaikan hak-hak rakyat Palestina.
“Kesepakatan perdamaian UEA dengan Israel adalah tikaman berbahaya di belakang rakyat Palestina,” kata Hamas dalam sebuah pernyataan.
Sementara itu, Komite Perlawanan Rakyat (PRC) menekankan bahwa kesepakatan itu menunjukkan konspirasi besar-besaran terhadap rakyat Palestina.
Gerakan Jihad Islam juga mengecam kesepakatan baru itu, membandingkannya dengan sikap “penyerahan” diri kepada Israel.
Israel dan UEA telah sepakat untuk menormalisasi hubungan, kata Presiden AS Donald Trump pada hari Kamis, dalam sebuah langkah yang mencegah rencana kontroversial Israel untuk mencaplok sebagian besar Tepi Barat yang diduduki.
Pernyataan bersama dari AS, UEA, dan Israel mengatakan “terobosan” akan mempromosikan perdamaian di kawasan Timur Tengah dan merupakan bukti diplomasi dan visi yang berani dari tiga pemimpin, mengacu pada Trump, Putra Mahkota Abu Dhabi Mohammed bin Zayed al-Nahyan, dan Netanyahu.
Berdasarkan kesepakatan itu, Israel akan “menangguhkan” rencana untuk mencaplok bagian Tepi Barat yang diduduki dan memfokuskan upayanya sekarang pada perluasan hubungan dengan negara lain di dunia Arab dan Muslim, menurut pernyataan tersebut.
“Amerika Serikat, Israel dan Uni Emirat Arab yakin bahwa terobosan diplomatik tambahan dengan negara lain dimungkinkan, dan akan bekerja sama untuk mencapai tujuan ini,” tambahnya.
Perkembangan itu menandai keempat kalinya sebuah negara Arab membuka hubungan diplomatik penuh dengan Israel, dan Emirat sekarang menjadi negara Teluk Arab pertama yang melakukannya. Negara Arab lainnya yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel adalah Mesir, Yordania dan Mauritania.[fq/anadolu]
TemanAlQuran.com Hidup Mulia Bersama Quran