Home » Kondisi Umat » Netanyahu Perkuat Kekuasaan di Tengah Konflik Gaza
TEL AVIV, ISRAEL - DECEMBER 10: (----EDITORIAL USE ONLY - MANDATORY CREDIT - 'CHAIM GOLDBERG / FLASH90 / POOL' - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS----) Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu appears before the District Court in Tel Aviv to testify for the first time in his corruption trial in Tel Aviv, Israel on December 10, 2024. ( Chaim Goldberg / Flash90 / Pool - Anadolu Agency )

Netanyahu Perkuat Kekuasaan di Tengah Konflik Gaza

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berhasil memperkuat posisinya secara politik meskipun menghadapi kecaman internasional atas apa yang disebut banyak pihak sebagai genosida di Gaza, serta tuduhan korupsi dan surat perintah penangkapan Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) atas kejahatan perang.

Menurut jajak pendapat terbaru Channel 13 News yang dirilis kemarin, partai Netanyahu, Likud, diproyeksikan meningkatkan perwakilannya di Knesset dari 55 kursi pada bulan Oktober menjadi 57 kursi dalam koalisi pemerintahan. Likud tetap menjadi partai terbesar dengan 26 kursi, menunjukkan bahwa serangan militer di Gaza justru mengonsolidasikan basis pendukung Netanyahu.

Dukungan Publik yang Kontroversial
Hasil survei ini menantang narasi umum di Barat bahwa Netanyahu adalah hambatan utama bagi perdamaian. Sebaliknya, data menunjukkan adanya dukungan luas dari masyarakat Israel terhadap operasi militer di Gaza, meskipun serangan tersebut telah menewaskan sedikitnya 45.000 warga Palestina, sebagian besar wanita dan anak-anak, serta melukai lebih dari 106.000 lainnya.

Jajak pendapat yang dilakukan oleh Maagar Mochot bekerja sama dengan Sample Project Panel dan Stat-Net mensurvei 676 warga Israel dengan margin kesalahan 3,8 persen. Temuan ini juga mengindikasikan bahwa meskipun koalisi Netanyahu belum mencapai mayoritas penuh di Knesset, posisinya semakin kuat.

Oposisi yang Melemah
Sementara koalisi sayap kanan Netanyahu mengalami penguatan, blok oposisi justru merosot dari 60 kursi pada bulan Oktober menjadi 58 kursi. Ini menegaskan perubahan dinamika politik di Israel, yang terjadi di tengah kecaman global terhadap serangan brutal di Gaza.

Implikasi Politik dan Sosial
Situasi ini memunculkan pertanyaan tentang sikap masyarakat Israel terhadap jatuhnya korban sipil di Gaza dan bagaimana dukungan politik Netanyahu dapat tetap kuat meskipun Israel semakin dianggap sebagai “negara paria” di panggung internasional. Banyak pengamat menilai bahwa tindakan Netanyahu di Gaza lebih dari sekadar strategi militer, melainkan upaya untuk mempertahankan kekuasaan di tengah tekanan domestik dan internasional yang kian besar.

Hasil ini menunjukkan bahwa serangan militer yang menghancurkan di Gaza bukan hanya tidak melemahkan posisi Netanyahu, tetapi justru memperkuat dukungan terhadapnya di dalam negeri.

Check Also

Prancis, Inggris, dan Jerman Serukan Diakhirinya Perang di Gaza

Para pemimpin kelompok E3 yang terdiri dari Prancis, Inggris, dan Jerman pada hari Jumat menyerukan ...

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: