Home » Kondisi Umat » Kafe-kafe di Gaza Berubah Menjadi Ruang Kelas di Tengah Genosida Israel
KHAN YUNIS, GAZA - SEPTEMBER 03: Students do homeworks after the lessons at their tent school, in which their teacher Alaa Abu Mustafa, whose house was destroyed in the Israeli army's attacks, gives them education in Khan Yunis, Gaza on September 03, 2024. The tent school was built on the rubble of the destroyed house of the teacher. Despite the limited and difficult conditions, teacher Alaa strives to ensure that primary school students are not deprived of education. ( Hani Alshaer - Anadolu Agency )

Kafe-kafe di Gaza Berubah Menjadi Ruang Kelas di Tengah Genosida Israel

Kafe-kafe di Gaza telah menjadi ruang kelas dan ruang kuliah yang dipenuhi mahasiswa yang berjuang untuk belajar sejak tentara pendudukan Israel menghancurkan infrastruktur akademik di seluruh wilayah kantong Palestina, Quds Press melaporkan.

Kafe dan rumah peristirahatan umumnya berada di bagian barat Jalur Gaza bagian tengah dan selatan, dekat kota Deir Al-Balah dan Khan Yunis. Mereka menyediakan internet dan listrik yang stabil serta lingkungan yang relatif tenang, jauh dari kebisingan kamp dan tenda pengungsian.

Mahasiswa di Gaza telah mulai mendaftar di universitas-universitas di Tepi Barat sebagai “mahasiswa tamu”, berdasarkan rencana yang disiapkan oleh Kementerian Pendidikan setelah berkonsultasi dengan para rektor universitas-universitas Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza yang diduduki. Ini adalah upaya berani untuk mengisi kesenjangan pendidikan dan menjaga masa depan para mahasiswa.

Kuliah-kuliah direkam dan disediakan secara daring. Para mahasiswa bahkan dapat berpartisipasi dalam kuliah-kuliah tersebut bersama dengan rekan-rekan mereka di universitas-universitas di Tepi Barat.

Genosida Israel di Gaza telah merampas sedikitnya 120.000 mahasiswa dari pendidikan universitas mereka. Asmaa, 23 tahun, adalah salah satunya. Ia berada di tahun terakhir kuliahnya ketika perang meletus pada tahun 2023.

“Saya belajar kedokteran gigi di Universitas Palestina dan saat itu saya berada di tahun kelima dan terakhir,” katanya kepada Quds Press . “Saya masih memiliki sepuluh jam akademik dan satu semester pelatihan lagi untuk memperoleh sertifikat praktik kedokteran gigi dan dapat membuka klinik sendiri.”

Keluarganya, imbuhnya, kehilangan rumah mereka di Kota Gaza, yang meliputi sebuah klinik yang dibangun oleh ayahnya sebagai hadiah kelulusan. “Karena perang, kami terpaksa pindah ke selatan, dan saya bahkan tidak dapat membawa buku-buku kuliah atau komputer pribadi saya.”

Kendati demikian, Asmaa menegaskan bahwa ia akan menyelesaikan apa yang telah ia mulai. Ia telah mendaftar sebagai mahasiswa tamu di Universitas An-Najah di Nablus, dan ia mengikuti kuliahnya di salah satu rumah peristirahatan di Deir Al-Balah bersama beberapa teman sekelasnya.

Akan tetapi, tingginya biaya yang dikeluarkan untuk melakukan hal ini membuat banyak pelajar di Gaza terpaksa menunda studi mereka hingga perang berakhir. Itulah harapannya. Sementara itu, rumah peristirahatan dan kafe menyediakan tempat yang aman bagi setidaknya beberapa pelajar untuk melanjutkan pendidikan mereka.[fq/anadolu]

Check Also

Prancis, Inggris, dan Jerman Serukan Diakhirinya Perang di Gaza

Para pemimpin kelompok E3 yang terdiri dari Prancis, Inggris, dan Jerman pada hari Jumat menyerukan ...

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: