Home » Kondisi Umat » Perang Gaza Bikin Industri Pariwisata Israel Krisis

Perang Gaza Bikin Industri Pariwisata Israel Krisis

Perang mematikan yang dilakukan Israel di Jalur Gaza telah menjerumuskan industri pariwisata negara tersebut ke dalam krisis baru, dengan arus masuk wisatawan berkurang drastis, Anadolu Agency melaporkan.

Tentara Israel melancarkan serangan destruktif di Wilayah Palestina setelah serangan Hamas pada 7 Oktober, yang menurut Tel Aviv menewaskan hampir 1.200 orang.

Namun, sejak saat itu, Haaretz  mengungkap  bahwa helikopter dan tank tentara Israel, pada kenyataannya telah membunuh banyak dari 1.139 tentara dan warga sipil yang diklaim oleh Israel telah dibunuh oleh Perlawanan Palestina.

Setidaknya 30.534 warga Palestina telah terbunuh dan 71.920 lainnya terluka di tengah kehancuran massal dan kekurangan kebutuhan pokok.

Ketika Tel Aviv terus menggempur Jalur Gaza selama 150 hari, banyak maskapai penerbangan telah menangguhkan penerbangan mereka ke Israel.

Menurut penghitungan Anadolu berdasarkan angka yang dikeluarkan oleh Biro Pusat Statistik Israel, sekitar 180.000 wisatawan mengunjungi Israel pada kuartal keempat tahun 2023, turun dari 930.000 wisatawan pada kuartal keempat tahun 2022, yang menunjukkan penurunan sebesar 81,5 persen.

Ketika konflik Gaza pecah pada Oktober 2023, lebih dari 89.007 wisatawan mengunjungi Israel, turun 73 persen dari 333.005 pengunjung pada tahun sebelumnya.

Pada bulan November, jumlah wisatawan yang mengunjungi Israel mencapai 38,003, turun dari 333,007 pada November 2022, dengan penurunan sebesar 78.5 persen.

Sebanyak 52.008 wisatawan mengunjungi Israel pada Desember 2023, turun dari 266.002 wisatawan pada Desember 2022, yang menunjukkan penurunan sebesar 80 persen.

Pada tahun 2023, sekitar 3 juta wisatawan mengunjungi Israel, turun dari 4,5 juta pada tahun 2019.

Pariwisata menyumbang sekitar 3 persen perekonomian Israel dan mempekerjakan sekitar 200.000 warga Israel secara langsung, menurut Kementerian Pariwisata.

Israel memperkirakan akan menerima 5,5 juta pengunjung pada tahun 2023, satu juta lebih banyak dari rekor sebelumnya yang dicapai pada tahun 2019.

Namun, Yossi Fattal, Direktur Kamar Penyelenggara Pariwisata Inbound di Israel, bulan lalu menyatakan keprihatinannya tentang dampak konflik Gaza terhadap industri pariwisata negara tersebut.

Fattal mengatakan kepada surat kabar Maariv bahwa 250 maskapai penerbangan beroperasi di Israel sebelum pecahnya konflik Gaza, namun hanya 45 perusahaan yang kini beroperasi, sehingga mengakibatkan isolasi yang sebanding dengan yang terjadi di Korea Utara.

“Hal ini menjadikan Israel salah satu negara paling terisolasi di dunia, dengan hanya 20 persen penerbangan dioperasikan oleh maskapai penerbangan selain El Al milik Israel,” katanya.[fq/anadolu]

Check Also

Prancis, Inggris, dan Jerman Serukan Diakhirinya Perang di Gaza

Para pemimpin kelompok E3 yang terdiri dari Prancis, Inggris, dan Jerman pada hari Jumat menyerukan ...

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: