Home » Kondisi Umat » Pakar PBB Sebut Sentimen Anti-Islam telah Mencapai Tingkat yang Meresahkan
LONDON, ENGLAND - NOVEMBER 20: Stop the War Coalition placards that say "No to Islamophobia. No to war." Are leant against a fence outside the Embassy of the Republic of Poland during a Stand Up To Racism protest on November 20, 2021 in London, England. Human rights and other activists campaigned against walls and refugee pushbacks on the Polish-Belarus border as well across the English Channel in the ongoing migrant crisis along Europe and UK borders. (Photo by Hollie Adams/Getty Images)

Pakar PBB Sebut Sentimen Anti-Islam telah Mencapai Tingkat yang Meresahkan

Pakar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa sentimen anti-Islam di seluruh dunia telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan.

Hal ini disampaikan dalam pernyataan bersama yang dikeluarkan oleh para ahli pada hari Jumat, yang memperingati Hari Internasional untuk Memerangi Islamofobia pada tanggal 15 Maret, di mana mereka menyatakan: “Dalam memproklamasikan tanggal 15 Maret sebagai Hari Internasional untuk Memerangi Islamofobia pada tahun 2022, Majelis Umum PBB menyerukan penguatan upaya internasional untuk mendorong dialog global mengenai peningkatan budaya toleransi dan perdamaian di semua tingkatan.”

“Tindakan pelecehan, intimidasi, kekerasan dan hasutan berdasarkan agama atau kepercayaan telah meningkat tajam di seluruh dunia pada tahun lalu, mencapai tingkat yang mengkhawatirkan, mengejutkan hati nurani kita dan menciptakan iklim ketakutan dan ketidakpercayaan yang mendalam,” tambah pernyataan tersebut.

Laporan ini meminta negara-negara untuk menanggapi segala bentuk kebencian agama, termasuk Islamofobia, berdasarkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip universal serta kerangka hukum hak asasi manusia. Mereka menyatakan penyesalan yang mendalam atas insiden pembakaran Al-Qur’an yang direncanakan di depan umum .

“Selama bulan suci Ramadhan ini, kami terkejut dengan penolakan terus-menerus oleh Israel untuk mengizinkan bantuan kemanusiaan dan bantuan makanan yang memadai diberikan kepada penduduk sipil yang sebagian besar beragama Islam di Gaza meskipun terjadi kelaparan yang meluas dan tanda-tanda kekurangan gizi yang parah.

 Kami sangat prihatin dengan pembatasan yang tidak semestinya yang diberlakukan pada akses ke Masjid Al-Aqsha.

“Di seluruh dunia, kita telah menyaksikan serangan terhadap masjid, pusat kebudayaan, sekolah, dan bahkan properti pribadi milik umat Islam,” ungkap para ahli dalam pernyataannya tersebut.[fq/memo]

Check Also

Prancis, Inggris, dan Jerman Serukan Diakhirinya Perang di Gaza

Para pemimpin kelompok E3 yang terdiri dari Prancis, Inggris, dan Jerman pada hari Jumat menyerukan ...

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: