Home » info » Cahaya Harapan Dalam Badai Musibah

Cahaya Harapan Dalam Badai Musibah

Bismillah, Pada bulan oktober 2020, Harian Metro di Malaysia membahas bahwa peningkatan warga Malaysia dengan depresi di masa pandemi hingga menembus jumlah lebih dari setengah juta orang. Di Canada dan Amerika Serikat pun, survey lembaga kesehatan menyebutkan peningkatan jumlah pasian dengan ganguan kesehatan mental telah mencapai lebih dari tiga puluh persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Bahkan media melaporkan tentang kasus kesehatan mental di Hospital Kuala Lumpur (HKL) yang meningkat 20 persen semenjak lebih setahun yang lalu, khususnya dalam tempo Perintah Kawalan Pergerakan (PKP). Perasaan diri sunyi, resah, bosan dan tertekan datang silih berganti dalam kegiatan sehari-hari masyarakat ‘di masa terkurung’, bahkan tak sedikit mulai rasa berputus asa dengan sebab hilang pekerjaan, meninggalnya anggota keluarga, gagalnya rencana perjalanan dan bimbang terhadap wabah penyakit covid19. Situasi yang tidak dapat dikontrol ini pada akhirnya menjadi penyebab utama stress dan depresi serta gangguan kesehatan mental lainnya.

Hasilnya kita pun mulai sering membaca kisah-kisah cobaan membunuh diri seperti kasus seorang lelaki yang mencoba bunuh diri dengan terjun dari tingkat 11 di Projek Perumahan Rakyat (PPR) Beringin di Jinjang Utara gara-gara tertekan tidak mempunyai pekerjaan dan hidup sebatang kara. Namun syukur mangsa tersebut berjaya dibujuk dan diselamatkan oleh penduduk. (Mungkin ini salah satu peristiwa penyelamatan yang mengharukan, di antara belasan kisah menyedihkan tatkala sudah terkorban beberapa insan pelaku bunuh diri di berbagai area, dengan diawali menurunnya kesehatan mental di masa pandemi.)

Kegelisahan dan kekecewaan dalam kehidupan hanya dapat diobati dengan kesabaran, ikhtiar dan meletakkan pengharapan hanya kepada Allah SWT. Niatan dalam hati kita senantiasa perlu diperbaiki sepanjang masa tatkala suka duka peristiwa datang silih berganti di sepanjang jalan kehidupan, nasehat itu kembali diulang-ulang oleh para da’i di saat menyampaikan khotbah subuh dan jumatan di berbagai surau wilayah Kuala Lumpur, meskipun lebih banyak jamaah menyimak secara online.

Kita manusia sebagai makhlukNYA, badai ujian dan musibah yang melanda kehidupan justru merupakan satu-satunya perkara yang memberi kekuatan dan dorongan untuk bangkit dari kekecewaan, hendaknya kita ridho dan memantapkan sifat pengharapan kepada rahmat dan pertolongan Allah SWT.

Di dalam al-Quran, perkataan ar-Raja’ digunakan untuk menggambarkan ciri-ciri manusia yang memiliki harapan yang positif sebagaimana yang dinyatakan di dalam al-Quran surah al-Baqarah ayat 218, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berhijrah serta berjuang pada jalan Allah (untuk menegakkan agama Islam), mereka itulah orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah. Dan (ingatlah), Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.”

Insan yang memiliki harapan di dalam kehidupannya akan selalu melihat sesuatu perkara dari sudut yang baik atau berfikiran positif. Manakala orang yang mempunyai pemikiran yang positif sebagaimana dijelaskan di dalam al-Quran adalah memiliki sifat yang tidak pernah berhenti berharap kepada Allah SWT untuk mendapatkan rahmat dan kasih sayangNya. Sebaliknya, golongan yang mudah berputus asa pula sering dikaitkan dengan pemikiran pesimis yaitu mereka yang melihat sesuatu dari sudut negatif semata-mata dan sukar meletakkan rasa pengharapan pada Allah SWT.

Ketika masyarakat sedang bergelut dengan situasi yang amat mencabar, terutama di dalam pandemi Covid-19 yang melanda dunia, sifat ar-Raja’ sangat diperlukan bagi fisik dan mental, menjadi obat keresahan yang dialami oleh masyarakat. Sebagian penduduk sedang menghadapi ujian kehilangan pekerjaan dan mata pencarian, perubahan urusan kehidupan yang tertangguh, bebanan kerja begitu berat, pasangan dan keluarga yang terpaksa berjauhan, kebimbangan dijangkiti penyakit wabah yang tidak diketahui resiko kesembuhan, kerisauan tentang kematian dan hal lainnya, padahal amat bersyukur kita ini sebagai orang yang dianugerahi Allah SWT sebingkai iman dalam dada ; ada nikmat al-Islam!

Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh ajaib dalam urusan orang Mukmin. Sesungguhnya setiap urusannya baginya ada kebaikan dan perkara ini tidak berlaku melainkan kepada orang Mukmin. Sekiranya dia diberi dengan sesuatu yang menggembirakan lalu dia bersyukur maka kebaikan baginya dan sekiranya apabila dia ditimpa kesusahan lalu dia bersabar maka kebaikan pula baginya.” (Hadits Riwayat Muslim) Masya Allah tabarokalloh!

Mari kita perbanyak mengingat Allah SWT, perdalam kalamullah wahai saudara-saudariku!

Hakikatnya Allah SWT telah memberikan dorongan dan motivasi kepada hamba-hamba-Nya agar berusaha dan berikhtiar sekiranya menginginkan sebuah perubahan yang positif di dalam kehidupan. Firman Allah SWT di dalam al-Quran surah al-Ra’d ayat 11 yang bermaksud, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa yang ada pada sesuatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”

Ada atau tiada peristiwa pandemi ini, Kegembiraan dan kesedihan tetap datang silih berganti dalam kehidupan kita. Subhanallah….

Sifat “ar-Raja’ membangunkan ciri positif yang lain di dalam diri insan seperti peningkatan kesabaran, percaya diri, konsisten serta kemauan yang kuat agar cita-cita dan impian menjadi sebuah kenyataan. Ciri-ciri tersebut akan menjadikan seseorang itu optimis dan berkeyakinan di dalam menggapai harapannya. Dengan harapan, kita akan mampu membangkitkan kemauan untuk melaksanakan sesuatu, membangunkan semangat jihad dalam menunaikan kewajiban, menghilangkan sifat malas serta mewujudkan kesungguhan dan sifat konsisten atau istiqamah.

Sedangkan sifat yang sering muncul dari rasa putus asa adalah kesedihan teramat sangat dan kehinaan. Ketika seseorang berputus asa, dirinya akan menjadi sedih dan buntu, lalu menyalahkan siapa saja tanpa berkaca diri.

Manusia yang memiliki sifat ar-Raja’ disandingkan dengan sifat orang yang bertaqwa, sedangkan orang yang memiliki sifat al-Ya’s pula disandingkan dengan sifat orang kafir yang sesat. Justru orang yang pesimis juga disebut di dalam al-Quran sebagai orang yang kufur nikmat dan bersifat tidak konsisten di dalam beribadah. Mereka ini ketika dikurniakan suatu nikmat, sibuk dengan nikmat tersebut dan melupakan Allah SWT, sedangkan ketika nikmat tersebut hilang, mereka berputus asa dari rahmat Allah.

Ada juga sebahagiannya ketika ditimpa kesusahan, mereka sibuk beribadah kepada Allah, sebaliknya ketika dikurniakan suatu nikmat, maka ketika itu mereka melupakan Allah SWT. Perkara tersebut dijelaskan di dalam al-Quran surah ar-Rum ayat 36 yang bermaksud, “Dan apabila Kami beri manusia merasai sesuatu rahmat, mereka bergembira dengannya (sehingga lupa daratan); dan jika mereka ditimpa sesuatu bencana disebabkan apa yang telah dilakukan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka berputus asa.”

Manusia yang berkepribadian optimis dan bergantung harap kepada Allah SWT pula tetap konsisten di dalam beribadah kepada Sang Maha Kuasa. Ketika dikurniakan suatu nikmat, maka dia bersyukur tanpa mengingkari nikmat tersebut dan melupakanNya, manakala ditimpa kesulitan, individu yang optimis tetap memohon pertolongan dan berdoa kepada Allah SWT.  

Aku dan kamu, penulis dan pembaca jua sama, semua kebagian jatah musibah tatkala pandemi berlangsung. Bukan cuma harta benda, bahkan tabungan haji kami yang sudah ‘terjadi cancellation 2020’ turut terpakai oleh team agensi travel tanpa sikap amanah, na’udzubillahiminzaliik! (Sampai sekarang belum dikembalikan dengan beragam alasan klise penuh kebohongan….), Beberapa tetangga meninggal dunia tanpa diprediksi, orang tua, pakdhe budhe dan kerabat silih berganti berpulang ke dalam perut bumi. Innalillahi wa inna ‘ilayhi roji’uun…. Sahabat-sahabat ada yang terpuruk dengan pemecatan kerja yang tak terelakkan, bahkan masih ada yang terbaring koma dengan anggota keluarga telah berpulang terlebih dahulu karena terinfeksi delta covid19.

Aku dan kamu sama-sama dirundung segala peristiwa tak menyenangkan di tengah pandemi ini, namun kita yang masih bernafas ini memiliki cahaya harapan itu, yakinlah saudaraku jika kita masih memegang sepotong iman, berpegang teguh pada kejujuran dan fokus meraih ridhoNya tentu saja!

Wahai saudara-saudariku! Berapa lama kita telah menikmati indahnya bumi dan langit ini? Apakah kita berumur sepuluh tahunan, dua puluhan, tiga puluhan atau enam puluhan tahun ke atas? Maka selama puluhan tahun kita merasa bebas menikmati alam, bersilaturahim dan bercengkerama dengan keluarga yang tinggalnya berbeda pulau atau beda negara, bahkan ada yang bolak-balik berhaji umrah setiap tahun dengan riang karena Allah SWT curahkan rezeki nominal nan mudah untuk membayar ongkosnya. Puluhan tahun kita mengecapi kebahagiaan menikmati menu di warung makan favorit, acara hobi dengan mengharuskan beperjalanan jauh, dan segala program kerja yang berbingkai keindahan ‘tour kesana-sini’, masya Allah!

Maka dalam masa hampir dua tahun ini, tetaplah kita ‘dalam kurungan peraturan normal baru’ (mengharuskan adanya ‘riwayat perjalanan keluar rumah’, mesti sering cuci tangan, social distancing, dll) adalah ujian dan musibah sekejap saja, sungguh kehidupan dengan nikmat kesenangan nan telah berlalu masih lebih deras tiada terhitung anugerah dariNya selama ini. Bagaimana cahaya harapan di tengah badai musibah dapat kita peroleh? Saatnya kita mencoba hitung nikmatNya, seberapa luas samudera kenikmatan yang telah kita rasa, dan insyaAllah tetap tak dapat kita menghitung segala hal itu, namun ego diri membuat kita bisa lupa dan terfokus pada segala resah dan kecewa di masa musibah melanda kini. Faghfirlana irhamna….

Sungguh cahaya harapan itu ada dalam dekapan jiwa, dalam jutaan bisikan nurani kita saat melantunkan istighfar dan lafadz pujian kepadaNya. Sungguh cahaya harapan itu lebih dekat dari pada jarak antara kening dan sajadah kita tatkala bersujud, dan lebih terang dari pada sinar mentari pagi yang kita sering abaikan. Waullahu a’lam bisshowab.

(@bidadari_Azzam, awal phase-4 Recovery pandemic in Malaysia, persiapan kepindahan kembali ke Eropa, Oktober 2021)

Check Also

Prancis, Inggris, dan Jerman Serukan Diakhirinya Perang di Gaza

Para pemimpin kelompok E3 yang terdiri dari Prancis, Inggris, dan Jerman pada hari Jumat menyerukan ...

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: