Mengabaikan perjanjian Astana dan Sochi, pasukan yang didukung Rusia dari rezim Bashar al-Assad Suriah merebut kota strategis Saraqib di Kegubernuran Idlib, Kamis kemarin.
Serangan oleh pasukan rezim Assad dan kelompok-kelompok teroris asing yang didukung Iran berlanjut di Idlib selatan.
Setelah bentrokan yang berkepanjangan antara pasukan oposisi, kelompok bersenjata anti-pemerintah dan pasukan rezim, pusat kota Saraqib dikuasai oleh pasukan rezim dengan dukungan udara Rusia.
Terletak di Idlib tenggara, Saraqib dikenal sebagai “gerbang” ke provinsi tersebut.
Pada 2017, Turki, Rusia dan Iran mengadakan pertemuan di kota Astana di Kazakhstan dan mengumumkan bahwa Idlib dan kota-kota tetangga di wilayah Ghouta Timur di luar ibukota Damaskus dan kota-kota selatan Daraa dan Quneitra akan menjadi zona de-eskalasi.
Tetapi rezim Assad dan kelompok-kelompok teroris yang didukung Iran melancarkan serangan yang melanggar perjanjian dan berkat dukungan udara Rusia menguasai wilayah-wilayah ini dengan pengecualian kota Idlib.
Pada bulan September 2018, Turki dan Rusia sepakat untuk mengubah Idlib menjadi zona de-eskalasi di mana tindakan agresi secara tegas dilarang.
Namun rezim Suriah dan sekutunya, secara konsisten melanggar ketentuan gencatan senjata, termasuk gencatan senjata baru pada 12 Januari, meluncurkan serangan yang sering di dalam zona dan membunuh setidaknya 1.300 warga sipil sejak perjanjian.[fq/aa]
TemanAlQuran.com Hidup Mulia Bersama Quran