Home » Kisah Pecinta al-Quran » Sudut Renungan Saat Ruqyah Syar’iyyah

Sudut Renungan Saat Ruqyah Syar’iyyah

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh!

Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu akan melihat amalmu, dan kebaikan-keburukanmu akan ditimbang. Maka janganlah kamu meremehkan satu kebaikan pun, sekalipun kecil, karena kamu akan melihat yang kecil itu akan membuatmu bahagia. Dan jangan pula meremehkan satu kejelekan pun karena jika kamu melihatnya, ia akan membuatmu sengsara.”

Mari kita renungkan pesan ini. Di setiap episode kehidupan kita nan banyak cabaran dan hikmahNYA, apalagi ditambah dengan hadirnya pasangan … momen menggenapkan separuh agama begitu banyak dirindukan oleh pemuda-pemudi yang usia biologisnya telah matang, namun belum jua datang sinyal ke pelaminan.

Pasti akan selalu ada tanya, kenapa … Orang di sekitar mereka merasa penasaran, kenapa..

Ada episode pernikahan yang segera menemukan jawaban jodohnya, ada yang merasa lama, sampai ada rasa tak sabar sehingga terjerumus pada pacaran~ kemana pun berduaan tanpa surat tanda ikatan, ada pula yang kebangetan sabar hingga menikmati setiap cemoohan dan rasa sakitnya.

Lalu, begini, wahai saudara-saudariku… Ada beberapa sahabat yang begitu berduka, punya pasangan bagaikan langit dan bumi, atau bahkan bagaikan gukguk dengan meong, rusuh ribut dan bertengkar melulu. Sedihnya, misalkan sang istri ngaji sana-sini sedari senin sampai senin depan, full schedules. Namun sang suami, jangankan ngaji, pegang Alquran pun belum tentu setahun sekali. 🙁 Sehingga Alif ba ta tsa pun mengeja- menebak dengan terbata-bata (jika ada ujian inspeksi dadakan).

Ini belum problema tentang anak yah… Ada ibu-ibu sholihah yang anaknya gadis dua dan tiga orang, ibunya aktivis kajian sana-sini, anaknya rok mini kemana-mana. Ibu-ibu ini sampai kering air mata, menangis mengadu kepada Allah SWT agar anandanya segera berhijab. Kemudian jika sedang emosi, amarah terlampiaskan juga dengan banting peralatan masak sini-sana, saking geramnya karena tiada perubahan dalam diri pasangan dan anak.

Adakah pembaca yang bernasib sama seperti mereka?

…. Jika IYA, silakan lanjutkan membaca…


Renungkanlah bahwa… Bisa saja,

Ternyata pemicunya ada dari dalam diri kita sendiri.

Sampah di dalam diri kita…

Dalam diri kita ada sampah batiniyyah yang menjadi buhul jiwa. Pentingnya tazkiyatun nafs buat kita,
dalam konsep Ruqyah Syariyyah buhul jiwa tersebut adalah sampah pintu setan yang menerobos mengoyak batin dan jiwa manusia.

Banyak yang tidak sadar bahwa jiwanya t’lah dikuasai setan,  tidak pandang bulu apakah dia yang ‘ngaji lama atau baru’. Ada konsep taubat saat hijrah diri nan belum sempurna. Alias setengah-setengah, sholat oke, maksiat tetap jalan. Ada istri merasakan suami bukan imam yang baik dengan segala kekurangan ilmu agama dsb, sementara suami merasa si istri terlalu ‘nge-gas’, cerewet berlebihan, dsb misalnya…

Bagaimana suami istri bisa melangkah dengan damai sakinah Bersama jika mahligainya goyah serta berisikan sampah? Na’udzubillahiminzaliik…

Wahai saudara-saudariku, terkait akan hal ini, Kita introspeksi bersama :

1. Pola asuh yang salah di masa lalu paling berpengaruh dalam hal ini,   

Jika istri kita tak bisa mengelola keuangan barangkali sang suami dulu pernah terjerat urusan ribawi yang belum ‘diperbaiki’ dengan taubatan nasuha.
Apabila istri kita menyimpang dari jalan kebenaran, istri yang malas sholat mengaji (sementara suaminya doyan ke masjid dan tak pernah tertinggal kajian dimana pun), bias jadi kita dahulu pernah jauh dan tidak akur dengan orang tua, bahkan bias saja kita melakukan hal serupa di masa lalu dan belum ditaubati secara sempurna,  ‘belum total’, sisa sampah ini menjadi pintu setan.

2. Ada orang luar nan memanfaatkan aib diri dan keluarga kita demi kepentingan pribadi, ini biasanya dengki dan hasad telah diasah sehingga makin mudah mengirimkan jin-jin kafir untuk melemahkan kita dan keluarga, Na’udzubillahiminzaliik.

Maka sebelum terlambat mari kita segera cek ricek pondasi rumah, palang pintu kita, kita mawas diri,  adakan program ‘tazkiyyah keluarga, teruskan selalu dengan perbanyak tadabbur Alquran, lakukan juga ‘pembersihan dan penataan jiwa’. Inilah Ruqyah Syar’iyyah…

Tahapan penting dalam proses terapi meliputi :

a. Penyadaran diri. 
Terapi diposisikan sebagai konseling.

Jika dibawa dalam ranah ruqyah, maka ruqyah yang dipakai dalam kasus ini adalah ruqyah dengan pendekatan konseling, bukan ruqyah dengan pendekatan pertempuran.   

Karena pendekatan yang dipilih adalah konseling maka hal mendasar yang perlu dilakukan sebelum terapi adalah membangun kesadaran atas kesalahan, meluruskan persepsi, membongkar keyakinan yang salah, menumpukan empati, melunakkan hati. 

Saya mengajak bersyukur karena sebelumnya hati pasien dipenuhi keluh kesah, posisi sebagai pendengar memang diperlukan, inilah pentingnya ukhuwwah! Jangan biarkan setan tertawa, jangan biarkan mereka menang… Kita sebagai ummat baginda Muhammad Shalallahu ‘alayhi wassalam, mesti menang dengan mendekap #Alquran!


Lalu mengajak memaafkan untuk meluruskan masa lalu yang penuh dendam dan masih ada rasa permusuhan.   

Selanjutnya mengajak berbakti setelah hidup banyak mengecewakan orang tua, bagi-bagi hadiah, hibah, sedekah kepada guru-guru, dan seterusnya.   

Point utama dalam step ini adalah mengubah pasien untuk siap menjadi ‘orang baru’ dengan kondisi pemahaman dan jiwa yang lebih baik dari sebelumnya, dengan lafadz-lafadz kalamullah, jangan pernah tergoda dengan kalimat hipnotis atau nyanyian syahdu a la orang kafir, yang praktiknya telah tertular ke negara-negara muslim itu, membuahkan ranah abu-abu.

Mari memunculkan sisi manusiawi sebagai hamba Allah SWT nan redha pada qadha dan qadarullah, berusaha bebersih nuraninya secara maksimal.   

b. Memohonkan ampun. 

Pada step ini, pasien didoakan semoga Allah SWT mengampuni kekhilafannya. 

Dengan kata lain, setelah pasien menyadari sisi yang tidak baik dalam dirinya dan siap berubah, maka langkah berikutnya adalah mengajaknya untuk bertaubat.   

Dengan sebenar-benarnya taubat, hingga dia mencintai taubat dan  memburu ampunan Allah SWT sebagai tujuan terbesar dalam hidupnya.

Bukan lagi kesembuhan sebagai obsesi terbesarnya. (keluhan penyakit apa pun pada dirinya, kegelisahan, amarah, gangguan kepribadian, dll…)

Saat melalui step ini, pasien betul-betul fokus memperbaiki urusan hidup di ragam aspek sebagai tanda taubatan nasuha, ia senantiasa menjauhi celah dosa besar dan selalu istighfar agar dosa-dosa sekecil apapun berguguran, hingga kelak husnul khotimah di akhir hayat.

c. Mendoakan kebersihan hati dan jiwanya. 

(Therapist dan yang jadi pasien sama-sama manusia biasa, sama-sama belajar dan saling mengingatkan.)

Ajaklah diri kita untuk memahami besarnya pahala dalam setiap musibah. 

Ajaklah diri kita untuk menyadari limpahan kebaikan dan nikmat Allah SWT atas diri kita.

Ajaklah untuk membersihkan diri dari sifat buruk yang pernah melekat dalam diri kita.   

Mohonlah kepada Allah ta’ala agar DIA menganugrahkan pada diri kita hati yang lapang, jiwa yang penuh rasa syukur dan sabar, nurani dan lisan yang mudah memaafkan.   

Mintalah pada Alloh agar dicabut semua dendam dan kemarahan yang masih tersembunyi. 

Mintalah pada Allah, semoga Allah SWT ganti kesedihan dengan kebahagiaan, hati yang sempit menjadi lapang, kekecewaan diganti menjadi ridho, rasa ragu menjadi yakin, lemah menjadi kuat, kufur menjadi syukur, takabur menjadi tawadhu, cinta dunia menjadi cinta akhirat. 
Doa, meminta, merayu kepada Allah SWT. Begitu seterusnya.   

Kita harapkan kepada Allah azza wa jalla, semoga Allah ta’ala membersihkan diri kita dari hal-hal yang tidak diridhoiNYA. 


d. Doakan dhohirnya. 

Disinilah keluhan sakit terjadi. Biasanya disitu pula, kemungkinan keinginan berbuat zina (jin) berulah. (Maaf, ini misalkan kasus sang ibu yang rajin mengaji tadi, suami lalai dan terlena, lalu tiba-tiba sudah mengumumkan mempunyai istri baru, bahkan pedihnya ada yang berzina dengan pelacur… Atau pun sebaliknya, si suami kerja keras di kantor, rajin sholat mengaji, namun istri malas sholat dan terjerumus pada kegiatan hingar-bingar dunia, kemudian ada celah bermaksiat dengan alasan kurang perhatian dari suami. Na’udzubillahiminzaliik!)

Maka pada step ini,
doakanlah tubuhnya agar Allah jaga dari keburukan-keburukan, dari dosa, penyakit, dari gangguan dan lintasan batinnya muncul saat mau berbuat selingkuh.   

Doakan dengan doa perlindungan untuk badannya, 
Doakan dengan doa kesembuhan untuk tubuhnya sakit, 
Doakan dengan membaca ayat-ayat dan doa ma’tsurat untuk kesembuhan dan perlindungan. 
Doakan agar Allah SWT sembuhkan semua keluhannya, baik keluhan karena sakit fisik, gangguan/ penyimpangannya atau ‘ain yang memompa tubuhnya. 
Doakan secara spesifik bagian tubuh yang biasa digunakan dalam keburukan atau bermasalah (seperti permisalan dalam kisah diatas). 

Ini salah satu cara dalam terapi dengan pendekatan konseling qurani, Ruqyah Syar’iyyah. 

Berjuta racikan ulama terdahulu yang menerapkan ‘obat mujarab’ berupa asy-syifa yaitu lantunan kalamullah, Alquran sebagai obat. Hanya saja, tak seluruh ummat Islam nan mau mencerna, memahami, apalagi mengamalkannya. Satu hal nan perlu kita jadikan prinsip dasar bahwa Allah SWT Maha Memelihara dan Maha Sempurna, maka urusan ‘penyakit kiriman takdirNYA jua’, pasti obatnya pun turut hadir biiznillah, termasuk mengenai wabah covid19 saat ini. Semoga bermanfaat, lain waktu kita sambung lagi insya Allah.

Baarakallohu fiikum, Ramadan Kareem!

(#Rangkuman tulisan Ummi Riry @bidadari_Azzam, KL. 🙂 tulisan sejak awal 2018… Saat kian mendalami ruqyah mandiri atas serangan sihr yang menyebabkan koma pasca kelahiran putra keenam, awal Ramadhan 2017 yang lalu)

Check Also

Tentang Iman dan Istiqomah

Bismillah walhamdulillah, asholatu wassalamu ‘ala rosulillah… Iman dan Istiqomah عَنْ أَبِي عَمْرو، وَقِيْلَ : أَبِي ...

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: