BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Home » Parenting Nabawi » KLASIFIKASI MANUSIA (Berdasarkan Interaksi Bersama Al-Quran)

KLASIFIKASI MANUSIA (Berdasarkan Interaksi Bersama Al-Quran)

temanquran

 

Bismillah walhamdulillah, asholatu wassalamu ‘ala rosulillah…

Mari kita simak ayat cinta-Nya, dengan makna sebagai berikut,

“Kemudian kitab ini Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba Kami, lalu diantara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.”
(Q.S. Al-Fathir: 32)

AL-QUR`ÂN MERUPAKAN KEBENARAN DARI ALLAH AZZA WA JALLA
Allah Azza wa Jalla mengabarkan bahwa Al-Qur`ân yang diwahyukan kepada Rasul-Nya adalah kebenaran. Itu karena terdapat muatan al-haq di dalamnya. Hingga seolah-olah kebenaran itu hanya terbatas di dalamnya saja. Maka janganlah kalian merasa sempit dengannya. Muatan kebenaran yang terkandung di dalamnya memberikan pengertian bahwa seluruh perkara dan urusan yang telah ditunjukkan olehnya, dalam masalah ilahiyyat (aqidah tentang Allah Azza wa Jalla ), perkara-perkara ghaib dan lainnya akan persis dengan kenyataan yang sebenarnya.

Al-Qur`ân membenarkan kitab-kitab dan para rasul sebelumnya. Para rasul juga telah mengabarkan akan datangnya Al-Qur`ân. Oleh sebab itu, tidak mungkin seseorang beriman kepada kitab-kitab tersebut, akan tetapi mengingkari Al-Qur`ân. Pasalnya, pengingkarannya kepada Al-Qur`ân bertentangan dengan keimanannya kepada kitab-kitab sebelumnya. Bahwa berita tentang Al-Qur`ân telah termuat di dalam kitab-kitab tersebut. Ditambah lagi, keterangan-keterangan kitab-kitab sebelumnya bersesuaian dengan apa yang ada di dalam Al-Qur`ân.

Misalnya, Allah SWT memberi kepada masing-masing umat sesuatu yang sesuai dengan kondisinya. Dalam konteks ini, syariat-syariat yang berlaku pada zaman dulu tidak relevan kecuali untuk masa dan zaman mereka. Oleh karena itu, Allah senantiasa mengutus para rasul, sampai akhirnya ditutup oleh Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dengan aturan syariat yang relevan untuk setiap tempat dan masa. Demikian ringkasan keterangan Syaikh as-Sa’di.

Sebagai cambuk motivasi “Bagaimana Pandangan Allah Azza wa jalla Terhadap Hamba-Nya”, berikut adalah Klasifikasi Manusia Berdasarkan Kekuatan Interaksi Bersama Al-Quran :
img1494232748826

TIGA GOLONGAN KAUM MUSLIMIN

 

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ
[QS. Fâthir/35:32]

 

Allah Azza wa Jalla mengabarkan betapa agung kemurahan dan kenikmatan-Nya yang telah dicurahkan kepada umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pilihan Allah Azza wa Jalla kepada mereka, lantaran mereka umat yang sempurna dengan akalnya, memiliki pemikiran terbaik, hati yang lunak, dan jiwa yang bersih.

Secara khusus, Allah Subhanahu wa Ta’ala mewariskan kitab yang berisi kebenaran dan hidayah hakiki (Al-Qur`ân) kepada mereka. Kitab suci yang juga telah memuat kandungan al-haq yang ada dalam Injil dan Taurat. Sebab, dua kitab tersebut sudah tidak relevan untuk menjadi hidayah dan pedoman bagi umat manusia, lantaran telah terintervensi oleh campur tangan manusia.

Allah Azza wa Jalla mengklasifikasi orang-orang yang menerima Al-Qur`ân, yaitu :

Golongan Pertama: ظَالِمٌ لِنَفْسِه (zhâlimun linafsihi).

Makna zhâlimun linafsihi merupakan sebutan bagi orang-orang muslim yang berbuat taqshîr (kurang beramal) dalam sebagian kewajiban, ditambah dengan tindakan pelanggaran terhadap hal-hal yang diharamkan, termasuk dosa-dosa besar. Atau dengan kata lain, orang dalam golongan ini berbuat maksiat kepada-Nya, tidak memanfaatkan al-Quran sebagai petunjuk hidup… Karakter golongan ini tertuang dalam firman Allah Azza wa Jalla berikut:

وَآخَرُونَ اعْتَرَفُوا بِذُنُوبِهِمْ خَلَطُوا عَمَلًا صَالِحًا وَآخَرَ سَيِّئًا عَسَى اللَّهُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampur-baurkan perkerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [at-Taubah/9: 102].

Golongan Kedua: الْمُقْتَصِدُ (al-muqtashid).

Orang-orang yang termasuk dalam istilah ini, ialah mereka yang taat kepada Allah Azza wa Jalla tanpa melakukan kemaksiatan, namun tidak menjalankan ibadah-ibadah sunnah untuk mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla. Juga diperuntukkan bagi orang yang melaksanakan sebagian isi al-Quran, sekaligus meninggalkan sebagian yang lainnya. Atau dalam pengertian lain, orang-orang yang telah mengerjakan kewajiban-kewajiban, meninggalkan perbuatan haram, namun diselingi dengan meninggalkan sejumlah amalan dan melakukan perkara yang makruh.

Golongan ini berada dalam potensi berbahaya, karena selangkah mundur menuju kezaliman. Namun dapat pula berada dalam posisi menguntungkan, jika condong pada langkah maju menuju ‘level Sabiqun bil Khairot’. Waspadai berada dalam golongan ini, karena ada potensi menuju kemunafikan.

Golongan Ketiga: سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ (sâbiqun bil-khairât).

Kelompok ini berciri menjalankan kewajiban-kewajiban dari Allah Azza wa Jalla dan menjauhi muharramât (larangan-larangan). Selain itu, keistimewaan yang tidak lepas dari mereka adalah kemauan untuk menjalankan amalan-amalan ketaatan yang (bukan wajib) untuk makin mendekatkan diri mereka kepada Allah Azza wa Jalla. Atau mereka adalah orang-orang yang mengerjakan kewajiban-kewajiban, amalan-amalan sunnah lagi menjauhi dosa-dosa besar dan kecil. Golongan ini benar-benar ‘selalu menjadikan al-Quran sebagai pedoman’, sami’na wa atho’na telah tertanam dalam jiwa.

Adalah merupakan sesuatu yang menarik, manakala Imam al-Qurthubi rahimahullah mengetengahkan sekian banyak pendapat ulama berkaitan dengan sifat-sifat tiga golongan di atas. Sehingga bisa dijadikan sebagai cermin dan bahan muhasabah (introspeksi diri) bagi seorang muslim dalam kehidupan sehari-harinya; apakah ia termasuk dalam golongan pertama (paling rendah), tengah-tengah, atau menempati posisi yang terbaik dalam setiap sikap, perkataan dan tindakan.

Golongan teristimewa ini bukan hanya hafalan 30 juz al-Qur’an nan tersimpan dalam dada-dada mreka, namun setiap menitnya berusaha tadabbur dan mengamalkan isi al-Qur’an dalam setiap aktivitas sehari-hari. Mereka berusaha memanfaatkan warisan rasulNya SAW semaksimal dan sedaya-upaya, dengan tetap tawaduk (rendah hati) karena sadar bahwa kemampuan yang dimiliki adalah semata-mata atas izin dan kurniaan Allah azza wa jalla. Golongan inilah yang kita cita-citakan, sebagai Ahlul Quran.

Waullohu a’lam bisshowab.

(@bidadari_Azzam, KL penghujung Rajab 1438h)

Maroji’ : 

al-Quran seri al-Hafiz, bab2. Al-Aisar, 2/1061-1062.
 Adhwâul Bayân (6/164).
Adhwâul Bayân (6/164).
Tafsîrul-Qur`ânil-‘Azhîm, 6/568,
al-Jâmi li Ahkâmil-Qur`ân, 14/302-303.

Check Also

Renungan : Cukuplah Bercita Meraih Ridho Allah SWT

Assalamu’alaykum Warohmatullohi wabarokatuh… 🙂 Walhamdulillah, sholawat dan salam kepada baginda Rasululloh ṣallā llāhu ʿalayhi wasallam. #reminder ...

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: