BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Home » Kisah Pecinta al-Quran » Orang Tua dan Anak Kecanduan ‘Main Game’

Orang Tua dan Anak Kecanduan ‘Main Game’

Bismillah walhamdulillah, asholatu wassalamu ‘ala rosulillah…

two

Pernahkah kecanduan game? –  

Sudah, bisik-bisik aja jawabnya… 🙂 hehehehehe, sama kok, penulisnya juga pernah! 😀

Dear bapak ibu nan dirahmati Allah azza wa jalla, hamba Allah SWT yang beriman bukanlah orang yang tidak pernah berdosa, melainkan hambaNya yang ketika berdosa~ langsung mengingatNya kembali, alias bertaubat, iya kan? Iya donk! ^_^

Akibat negatif dari kecanduan game pada anak sangat banyak. Dampak terkecil adalah anak menjadi kehilangan waktu ‘yang lebih berkualitas’. Dampak yang parah adalah anak bisa bolos sekolah demi game fav, terutama game online. Sudah sering termuat di surat kabar berita penangkapan anak yang berpakaian seragam sekolah yang asyik di depan layar game online pada jam-jam sekolah.

Apalagi jika orang tuanya yang kecanduan?! Terbayang gak? Dahulu, tetangga seorang sahabat sampai ‘menghabiskan gajinya’ demi membeli perlengkapan game-online fav-nya, sampai anak-anak mereka tidak bisa makan, gara-gara tidak bisa membeli beras, what?! Syeramnyaaa…. 🙁

Na’udzubillahiminzaliik….

Jika orang tua mengetahui kondisi ‘kecanduan game pada anaknya’ tentu sangat prihatin. Maka bagi para orang tua, jika mendapati anak akan mulai kecanduan game, sebaiknya ambil  langkah jitu mengatasi hal ini :

1. Perbanyak Istighfar, sekaligus introspeksi diri, mungkin diri kita sebagai orang tua juga ‘sedang kecamduan game’, bisa jadi kan?! (Yaaaah, mungkin bukan game yang sama, mungkin saja game-nya di nonton bola sampai begadang, di ‘otak-atik resep masakan sampai keranjingan dan lupa akan hal lain menyangkut anak’, di ‘koleksi alat-alat kecantikan’, di ‘urusan smart-phone’ dan Wa-chat, dll sejenisnya…. Hayooo, ngaku?!)

Astaghfirrulloh, mari kita memohon ampunan padaNya, lalu Pererat hubungan anak dengan orang tua…

Anak yang kecanduan game kebanyakan adalah yang jauh hubungan personalnya dengan orang tua. Bahkan kebanyakan adalah anak yang “bermusuhan” dengan orang tua. Alias ‘tidak sering dirangkul’ oleh orang tua.

Anak kita perlu dipeluk, didekap erat, diajak diskusi, dan ‘diberitahukan, diceritakan’ tentang ajaran al-quran serta wasiat sunnah baginda nabiNya sallallahu ‘alayhi wa sallam. Untuk usia menuju sepuluh tahun, Tema terasyik adalah tujuan hidup di dunia, kematian dan hari kiamat. Lalu usia adik-adiknya, sang abang akan melanjutkan pembahasan dengan bahasa ‘abang-adik’ sehingga ‘rangkap manfaatnya’ yaitu hubungan abang-adik pun erat. Jika sudah dekat, akan mudah untuk menasehati anak dan mengarahkan anak supaya fokus pada arah citanya.

2. Beri penjelasan akibat negatif bermain game

Anak kebanyakan belum begitu paham dampak negatif ‘kecanduan game’, yang mereka inginkan hanya mengikuti hasrat bersenang-senang saja. Mereka belum memahami betapa berharganya waktu hidup, Atau yang lebih parah ada yang gara-gara bermain game terlalu lama ~ sampai sakit dan meninggal dunia dalam pelukan ‘game’nya. Maka kewajiban orang tua untuk selalu mengingatkan anak, untuk terus membantu anak dalam menjauhi bahaya atau dampak-dampak negatif ini.

Bisa dengan cara mengajak anak mengunjungi saudara atau sahabat yang telah meninggalkan kebiasaan buruk ini, insyaAllah anak perlahan memahami mengenai tanggung-jawab setiap diri terhadap masa-masa sehat di dunia ini.

 

3. Membantu alihkan perhatian anak pada aktivitas lainnya

Berikan alternatif bagi anak, seperti mengikuti klub senam, berolah raga, mengikuti kegiatan remaja masjid, karang taruna, dan lain-lainnya. Dorong anak agar tidak berkutat di depan layar game. Jika anak sudah lelah dengan aktivitas yang lain, hobi bermain game akan bisa tersingkirkan.

game1

 

Sayyif-game kasur :-D
Sayyif-game sholat di kasurnya :-D

4. Buat kesepakatan dengan anak

Untuk anak yang tetap menginginkan jadwal bermain game, (termasuk juga pengalaman anak karena ada tugas sekolah sehubungan dengan ‘game’ itu… ) maka bicarakan dengannya secara baik-baik. Buat kesepakatan batasan waktu maksimal berapa lama untuk bermain game. Agar tidak sampai mengganggu jadwal lainnya. Temani anak membuat jadwal kegiatan harian, Dengan membuat kesepakatan anak jadi merasa bahwa dia juga yang membuat batasan bermain game tersebut, sehingga lebih mudah untuk mematuhinya.

Bila perlu, orang tua bersama-sama pula saling mencocokkan jadwal kegiatan. Sehingga ada jeda-jeda waktu tertentu yang bisa dipergunakan untuk ‘kebersamaan keluarga’ secara optimal.

ktawasalju

Contoh nyata ditulis catatan ‘langganan’ pula : *membuka layar komputer on-line hanya di sabtu dan ahad selama satu jam. *menyetor hafalan baru setiap jumat sore, *murojaah setiap usai sholat subuh… dst.

5. Pantau terus dan beri hukuman jika anak mulai kecanduan game

Selanjutnya pantau terus anak dalam kesehariannya agar tidak tergoda kecanduan game. Jika sudah melanggar kesepakatan batasan waktu, segera ingatkan. Tentu berikan hukuman, agar anak mengetahui ada konsekuensi jika melanggar aturan. Lakukan dengan ‘lillahi ta’ala, bukan dengan perasaan, :-). `sehingga iman lebih diutamakan, bukan rasa kasihan.

Allahumma ‘ajirna minannaar…

Sebenarnya zaman sekarang sudah sangat lemah lembut ‘orang tua yang generasi kita’ yaaah 🙂

Zaman uyut saya, kakek nenek, dan orang tua saya, semua punya ‘koleksi dua jenis rotan’. Rotan ini disimpan di tempat khusus. Ketika anaknya ‘malas-malasan mengaji’, si rotan yang berbicara. *terharu oh terharu*  Lalu jenis rotan yang kedua, khusus pula untuk mengingatkan hal lain misalnya perjanjian waktu ‘pulang ke rumah usai belajar di luar’ atau terlupa tugas di rumah, dan lain-lain.

Tetapi, tidak ada bekas rotan di tubuh-tubuh anak-anak mereka, beneran! Masya Allah…  Justru yang hadir adalah ‘bekas di hati’ menahan kerinduan untuk dirotan lagi. Rotan itu terasa sebagai ‘tanda kasih sayang mendalam’, rotan cinta yang cerita tentangnya abadi dicatat oleh pasukan malaikat pencatat amal kebaikan, insyaAllah…

6. Bantu ‘mundur teratur’ dari teman yang kecanduan game

Anak yang kecanduan game, terutama game online, biasanya tidaklah sendirian. Ada teman kesehariannya. Malah ada juga beberapa anak ‘klub penghafal quran’, begitu orang tuanya tidak di rumah, mereka mulai ‘online-game’, bebaaaaaas! 🙁

Maka upayakan untuk mengajak anak memahami bahwa teman baik adalah teman yang yang bersama mengajak kepada ridho Allah ta’ala. Jika temannya selalu mengompori untuk mengajak bermain game, Anak akhirnya bisa tergoda kembali untuk kecanduan bermain game. Bahkan lebih parah : akan ada penyakit bahaya dan menular yaitu BERBOHONG! Padahal, orang Islam tidak berbohong!

Dear shohibul quran, Yoook Selamatkan keluarga kita dari ‘kenyamanan berbohong’, ini adalah awal korupsi kolusi yang menggerogoti negeri, innalillahi wa inna ilayhi roji’uun…

piknik in Krakow, #Sholat time
piknik in Krakow, #Sholat time

7. Buatlah Anak menemukan kenyamanan bersama keluarga, boleh main, syaratnya…

Boleh buat jadwal ayah, ibu, anak bermain bola, badminton atau berenang bersama. Ajak anak ‘bermain game’ yang memang tampak manfaat nyatanya, misalnya membuat ‘game sendiri’. 🙂

Mungkin pembaca sudah sering melihat ‘game monopoli islami’, ada pula ‘game belajar kosa kata’ buat anak yang baru masuk Sekolah Dasar. Ada pula ‘game khusus bagi anak-anak penebak kata’, si ahli teknik mesin, game matematika, serta ‘game huruf hijaiyah’, atau bisa ajak main ‘quiz shirah nabawiyah’ dengan gaya seperti latihan sa’i, dll ajak anak berkeringat bukan ‘senam jari’ hehehehe… Orang tua perlu banyak kreativitas dan berimprovisasi ‘mengarahkan para amanah Allah SWT’ ini.

trioabangs
at Park Wodny, Krakow-Poland @bidadari_Azzam

Once important thing, bersabar sepanjang hayat… 

Mendidik itu ternyata selalu sama dengan ‘belajar’, dari sejak lahir hingga berada di dalam liang kubur (kata mamanda Hj. Sahla binti H. A. Madjid <3 hihihihihi), jangan berhenti untuk selalu bersyukur dan bersabar… Anak adalah anugerah terindah dalam hidup kita, parenting adalah seni menundukkan nafsu sebagai orang tua, 🙂

Barokallohu feekum… 

(Waullohu a’lam bisshowab,@bidadari_Azzam, KL, dzulhijjah 1437h, salam Ukhuwah!)

 

 

Check Also

Renungan : Cukuplah Bercita Meraih Ridho Allah SWT

Assalamu’alaykum Warohmatullohi wabarokatuh… 🙂 Walhamdulillah, sholawat dan salam kepada baginda Rasululloh ṣallā llāhu ʿalayhi wasallam. #reminder ...

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: